Untuk Tuan Gusti Ngurah: Bacalah Pesanku Sekalipun Kau Tak Mau Membalasnya

Aku tidak tahu apakah kamu akan membaca pesanku ini atau tidak. Seingatku aku pernah memberimu alamat blog-ku. Kuharap ada keajaiban datang sehingga kamu mengklik tautan yang pernah aku kirimkan padamu kemudian menemukan tulisan ini. Memang sangat berantakan, namun inilah perasaanku padamu.

Untuk Tuan Gusti Ngurah yang tidak pernah bisa aku miliki,

Tiga hari sejak aku memutuskan sakit hati karenamu, aku bertanya-tanya, adakah kini diriku pernah sejenak terlintas di benakmu? Adakah hari-harimu merindukan kisah-kisah konyol dan pikiran tak rasional dariku? Masih sudikah hatimu untuk sedikit tersenyum mengingat keluh yang pernah kubagi?

Aku harap kamu tidak melakukannya sehingga aku bisa mengerti siapa diriku ini. Perasaan rindu ini tak pantas kumiliki.

Kamu tahu, Tuan, hari ini aku mendapatimu memajang coretan tanganmu sebagai display picture di akun BBM-mu. Pikiranku terbang ke suatu waktu dimana aku menyebut diriku sendiri sebagai One Drive pribadimu karena apapun yang kamu kerjakan, aku selalu diberi kehormatan menjadi yang pertama terkagum pada hasilnya. Sekarang, rasanya aku ingin menangis menyadari bahwa bukan aku lagi orang pertama yang kamu pamerkan dengan bangga kreativitasmu.

Tuan Gusti Ngurah yang dulu pernah begitu berarti untukku,

Kamu pernah bertanya padaku apakah aku menyukaimu, namun aku tidak mampu menjawabnya. Bukan karena aku tidak menyayangimu, tapi karena aku memikirkan banyak hal mengenai konsekuensi jawabanku. Adakah kelak kamu akan memperjuangkanku? Adakah kelak kamu bersedia membagi tawa dan memikul sedihku? Tidak. Baiklah.

Sampai di sini sepertinya aku mengasumsikan kita saling mencintai, ya? Padahal kamu juga tidak pernah mengungkapkan perasaanmu padaku. Kalau kamu tidak pernah menyukaiku, tidak apa-apa. Aku tidak pernah menyesal pernah menjatuhkan perasaan ini padamu.

Tuan Gusti Ngurah yang selalu ingin aku bahagiakan,

Aku bukanlah wanita berdarah seni tinggi, juga bukan wanita yang sangat cerdas. Aku hanyalah kutu buku yang menyembunyikan diri di balik tumpukan jalinan kertas-kertas usang. Namun, aku ingin sekali membahagiakan dan menarik perhatianmu.

Aku tidak terampil menggambar, Tuan. Tapi, hanya untukmulah aku mau bersusah payah memaksakan tanganku agar bisa menciptakan bentuk dua dimensi untukmu.

Aku melakukan apa yang aku suka sesuai dengan mood-ku. Namun baru kali ini aku mau terjaga hingga tengah malam untuk membuatkanmu origami T-Rex karena aku ingat kamu begitu menyukai dinosaurus.

Kamu tahu, aku tidak pernah seberusaha itu untuk mendapatkan sedikit pengakuan dari orang lain. Tapi, baru kali ini aku merasa ingin terlihat hebat di mata seseorang meskipun kuakui itu cukup membuat otakku bekerja dua hingga tiga kali lebih berat. Namun melihatmu yang sepertinya terkagum pada apa yang berhasil aku kerjakan, aku selalu merasa jerihku langsung terbayar.

Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk membuatmu bahagia. Tapi percayalah apapun yang kulakukan untukmu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh kuniatkan dalam hati. Aku bahagia karena hadirmu membuatku mengerti bahwa membuat orang lain senang memberikan kehangatan tersendiri dalam hati.

Untuk Tuan Gusti Ngurah, orang paling luar biasa yang pernah kuizinkan singgah di hidupku,

Kemarin aku mengirimimu pesan melalui Whatsapp. Sebenarnya aku juga memikirkan cara lain untuk menghubungimu, tapi opsi itu sepertinya yang paling mungkin untuk kau hiraukan. Pesan yang kukirim itu bercentang dua, tanda  telah sampai ke ponselmu. Namun centang itu tidak kunjung berubah warnanya menjadi biru hingga detik ini. Kupikir kamu memang sedang tidak membuka ponselmu. Tapi kulihat kamu begitu aktif di sosial mediamu. Kuasumsikan kamu tidak lagi sudi berurusan denganku.

Tahukah kamu meskipun permasalahan itu kamu yang memulai, aku merasa bahwa diriku yang bersalah. Aku merasa bahwa diriku yang telah dibuang. Dicampakkan. Tidak lagi diinginkan.

Tuan, bila memang benar kamu tidak membutuhkan hadirku lagi di hidupmu, aku hanya ingin menyampaikan pesan ini, semoga kamu mau membaca dan mengabulkannya. Tolong baca pesan yang telah kukirimkan sekalipun kamu tidak mau membalasnya. Setidaknya dengan begitu, aku tahu maksudku telah tersampaikan padamu. Itu lebih baik dibandingkan melihatmu sengaja menolak dan mengabaikan penjelasanku.

Lucu sekali ketika mendapati orang yang dulu bahkan pernah aku ceritakan kerisauanku dalam memilih warna lipstik kini berbalik seolah tidak pernah mengenalku. Bahkan untuk mengklik tombol Like di akun sosial mediamu saja, kini aku tidak lagi memiliki keberanian.

Tuan Gusti Ngurah, bukan tipeku untuk bersedih-sedih seperti ini. Aku perempuan rasional yang saking rasionalnya menggunakan asam mefenamat untuk menyembuhkan luka di hatiku. Kamu sukses membuatku punya perasaan, Tuan.

Advertisements

2 thoughts on “Untuk Tuan Gusti Ngurah: Bacalah Pesanku Sekalipun Kau Tak Mau Membalasnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s