Gloria, Arcandra, Veteran, Ianfu. Adakah Alasanku Harus Peduli pada Indonesia?

Lagipula, wanita mana yang masih sanggup mengangkat wajahnya dengan bangga setelah dinodai oleh laki-laki yang bukan suaminya?

Indonesia, aku mencintaimu. Tapi aku hidup pada zaman dimana kritik harus disampaikan oleh orang yang sudah sempurna. Jadi, maaf saja kalau aku menutup mata tentang kekejaman-kekejaman yang terjadi di sini. Dari gelombang kekecewaan yang terjadi akhir-akhir ini di tengah hiruk pikuk kemerdekaan.

gh2ZdNj3bv

Kepada seorang pria berkewarganegaraan Amerika Serikat bernama Arcandra Tahar yang baru-baru ini diangkat jadi menteri ESDM menggantikan Sudirman Said. Yang 20 hari kemudian diberhentikan oleh Presiden dan membuatnya menyandang predikat menteri tersingkat yang pernah menjabat sepanjang perjalanan negeri ini. Siapa suruh Bapak pernah mengangkat sumpah setia pada Amerika Serikat dan keburu menerima tawaran sebagai menteri di Indonesia sebelum status kewarganegaraan Bapak berganti? Tidak punya negara, ‘kan, sekarang Bapak?

Juga tentang Gloria Natapradja Hamel yang ternyata kedapatan memiliki paspor Perancis dan membuatnya batal dilantik sebagai anggota Paskibraka.  Kamu tidak pernah baca UU baru tahun 2006 mengenai kebijakan kewarganegaraan, ya, Glor? Apakah kamu juga tidak baca kalau syarat Paskibraka itu WNI? WNI, lho! Kamu, ‘kan, dwikewarganegaraan, ya jelas kamu sudah melanggar aturan. Urus affidavit segera, gih, agar bisa selamat melenggang di Indonesia seperti Cinta Laura.

Tapi tidak apa, Gloria. Setidaknya ada sisi positif dari kejadian yang kamu alami. Kamu adalah orang yang membuat sejarah baru. Kalau bukan karena kamu, upacara tahun ini tidak akan unik karena hanya menyertakan 67 anggota Paskibraka, yang seharusnya 68. Terimakasih, ya, Glor. Tapi tetap saja aku tidak peduli padamu.

Eh, tapi kamu nanti sore diizinkan jadi pasukan penurun bendera, ya, Glor? Lumayan klimaks ceritamu. Bodo amatlah!

Aku juga jauh lebih tidak peduli lagi pada Ismail Marzuki yang namanya megah diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki. Yang kini anaknya  hidup dengan berjualan es. Maaf, ya, Indonesia sedang sibuk dengan kebijakan tax amnesty dan sidangnya Jessica-Mirna. Lagipula kalian hidup bahagia, ‘kan, walaupun tidak berkecukupan? Yang berjasa untuk negeri ini, ‘kan, orangtua kalian, jadi tidak ada urusannya, dong, negara memperhatikan kalian.

160629042819_timor_brexit_2_640x360_bbc_nocredit

Kutulikan juga telingaku menyoal derita rakyat Indonesia di perbatasan. Korban konflik berkepanjangan. Mereka-mereka yang pro-Indonesia dan eksodus ke negeri ini setelah hasil referendum memutuskan Timor Timur bukan lagi bagian dari Indonesia dan menjadi Timor Leste. Mereka-mereka yang berjuang mempertahankan kesatuan Negeri ini yang akhirnya berakhir dengan ditelantarkan. Tidak apa-apa, Bapak dan Ibu pejuang, kisahmu ini hanya sebagian kecil dari penderitaan para veteran yang kini kebanyakan bergabung dalam 28,01 juta penduduk miskin Indonesia. Siapa yang suruh dulu kalian memilih Indonesia? Ke Timor Leste saja, ‘kan, enak. Mata uangnya sudah pakai dolar. Dolar nilai tukarnya makin meroket, lho, Bapak dan Ibu.

b556d95c-a03d-428e-a5ca-859814b3a381_169

Tapi korban dari segala korban menurutku adalah Jugun Ianfu. Kamu tahu apa itu Jugun Ianfu? Jugun Ianfu adalah wanita-wanita yang dipaksa untuk melayani kebutuhan seks tentara-tentara Jepang pada 1942-1945. Kalau sekarang kamu berlomba-lomba untuk bisa tampil cantik dengan mendempul mukamu, menyuntik vitamin C pada tubuhmu agar kulitmu menjadi putih bersih, serta menggambar alis dan bibirmu agar berbentuk sempurna, hal-hal seperti itu adalah sesuatu yang terkutuk bagi mereka.

Kamu yang memiliki paras cantik dan rajin mengunggah fotomu di sosial media, bersyukurlah karena kamu terlahir pada era ini. Kamu bisa bangga dan bersenang hati dengan banyaknya pengguna sosial media yang memuji keelokanmu di kolom komentar setiap postinganmu.  Namun pujian itu dulunya adalah momok bagi para wanita itu. Pada era mereka, terlahir dengan paras menawan adalah tragedi. Cantik adalah aib, cantik harus disembunyikan karena cantik membawamu pada petaka. Tidak ada seorang ibu pun yang mau anaknya terlahir dengan wajah ayu. Takut diangkut dan digagahi para lelaki yang jahat.

Mardiyem, Sumirah, Sri Sukanti, Wainem adalah beberapa korban yang berada dalam dilema. Diabaikan menyakitkan, minta diperhatikan juga begitu memalukan. Coba sebutkan, wanita mana yang masih bisa mengangkat wajahnya dengan bangga sementara dirinya telah dinodai berulang kali oleh laki-laki yang bukan suaminya? Oh, banyak. Dan bodo amat, bukan hobiku kepo tentang kesucian kalian.

097927000_1430724994-youtubers_2

Aku kecewa pada Indonesia sampai aku tidak peduli lagi pada semuanya. Pada orang-orang di industri hiburan yang tega membohongi masyarakat Indonesia. Mereka tega membiarkan kita mengeluarkan uang 30 ribu hingga 60 ribu saat weekend (tiket bioskop di Semarang, nggak tahu ya kalau wilayah lain, hehe) untuk menonton film mereka yang tidak bagus-bagus amat. Aktor dan aktrisnya dari Youtubers yang subscribers-nya berjibun. Jujur saja, aku menghargai karya mereka, tapi tolonglah berikan yang terbaik. Kalau para Youtubers yang mendadak jadi aktor dan aktris ini tidak punya kemampuan mumpuni di bidang seni akting, tolonglah Bapak/Ibu Produser dan Sutradara atau siapapun yang mengurusi casting ini, tidak usah dipaksakan. Hanya karena jaminan akan memiliki jumlah audiens banyak dari hitungan kasar jumlah pengikut mereka di Youtube serta promosi gratis yang bisa kalian dapatkan, kalian rela menipu kami semua dengan menyuguhkan hal yang pas-pasan? Bapak/Ibu produser, profesi aktor dan aktris sungguhan itu ada, lho. Mending bayar mereka saja, deh, daripada memaksakan sesuatu yang tidak pantas dipaksakan.

664xauto-kpi-bantah-soal-pengebluran-program-di-televisi-160225f

Sama halnya dengan pertelevisian Indonesia. Gajiku yang tidak seberapa ini harus habis untuk membayar tagihan TV kabel agar aku bisa menikmati tontonan yang bermutu karena tontonan di negeriku begitu ngeri. Begitu menyebalkan. Dalam hati kecilku, aku menantikan hari dimana aku bisa dengan santai menonton channel Indonesia tanpa khawatir mataku akan teriritasi atau bibirku mengucap serapah. Tidak ada yang lebih menyenangkan, bukan, selain menghargai karya anak bangsa?

Atau pada media yang hobi sekali memelintir isu-isu penting. Tiba-tiba memihak pada satu golongan karena mereka bisa membayar biaya percetakan. Memaksa jurnalis-jurnalis jujurnya untuk membelokkan idealisme mereka. Menjadikan mereka budak korporat. Tapi sudahlah, semua butuh uang. Salah sendiri jadi pembaca, pendengar, dan penonton berita yang tidak objektif. Mudah saja terbawa media tanpa melakukan studi banding ke media lainnya.

gambar-pemandangan-sawah-indonesia-555x3461

Aku lebih tidak mau tahu lagi tentang jerit para petani yang bersusah payah menanami lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia. Tentang mereka yang masih banyak hidup di bawah bayang-bayang tengkulak yang membayar jerih mereka dengan murah. Tentang pahlawan yang berusaha memakmurkan kehidupan dalam negeri tapi ironisnya hidupnya sendiri tidak makmur. Masa bodo!

Kututup mataku pada keramahan alam Indonesia yang katanya luar biasa mempesona. Ah, apa, sih, yang bisa dibanggakan dari negeri ini? Pariwisatanya juga begitu-begitu saja. Akses ke sana jelek. Bukannya wisata, malah pusing mikirin ban mobil bocor. Barang-barangnya juga. Apa, sih, bagusnya? Produk KW semua. Mending aku ke Singapura saja berbelanja barang dengan harga selangit yang sudah pasti asli.

Maaf, ya, Indonesia,  karena aku tidak peduli dengan segalanya. Aku terlalu sibuk mengurus nilai TOEFL dan IELTS-ku agar aku bisa menulis status menggunakan Bahasa Inggris dengan bangga. Aku tidak peduli pada penggunaan kata di, di-, ke, dan ke- yang benar. Di hina dinegeri sendiri.

Sudahlah, membicarakan negeri ini tidak akan ada habisnya. Pada akhirnya aku tetap akan menghabiskan hidupku di tanahku yang ngontrak dan airku yang beli ini. Lagipula semuanya juga punya masalah. Indonesia, Amerika, Korea Utara. Hanya karena kelihatannya lebih maju, bukan berarti itu yang lebih baik. Berpuas diri sajalah dengan negeri kita. Kalau kita sudah merasa tidak nyaman di negeri sendiri, sejatinya kemanakah kita akan pulang?

Teman-teman kalau tidak kuat, ya tutup mata saja dari semuanya. Masih tidak kuat lagi? Keluar saja dari Indonesia-ku.

Selamat ulang tahun ya Indonesia, aku (pura-pura) mencintaimu. Merdeka, ya? Merdeka, dong. Ye, gak? Hehehe.

Advertisements

4 thoughts on “Gloria, Arcandra, Veteran, Ianfu. Adakah Alasanku Harus Peduli pada Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s