Sudah, Dong, Ahoknya! :)

Ini bakal jadi tulisan yang panjang, semoga betah membacanya. Kalau nggak betah, langsung skip ke paragraf 7 aja, ya. Inti tulisannya ada di situ.

Sebenarnya daku sudah berusaha sekeras mungkin sih biar ga komentar soal ini. :” Ah tapi apa daya mulut perempuan memang selalu gatal kalau nggak komentar tentang sesuatu yang lagi hits. Postingan ini sudah melalui pemikiran yang masak-masak beberapa hari sebelumnya, semoga tidak berat sebelah.

Sebelum itu aku jelaskan dulu, ya, tentang latar belakangku sebagai penulis opini ini. Aku seorang sarjana hukum, juga sarjana ilmu politik dan pemerintahan, tapi ilmunya dari internet, wakakakakak. Nanti kalau ada yang salah tentang tulisan dan pemikiranku ini, aku akan dengan sangat terbuka menerima masukan dan kritik, tapi bahasanya yang enak, ya, agar diriku ini tidak baper. :” Biasalah aku ini anaknya apa-apa cukup dimasukin ke hati, hiks. :” Oh iya, jangan lupa tambahin “hehe” biar kesannya nggak marah-marah, wakakakakak.

Aku beragama Islam. Nggak nyaman rasanya buatku menjelaskan mengenai agamaku. Bukan aku nggak bangga atau malu beragama Islam, tapi lebih karena pandanganku mengenai bahwa kehidupan beragama adalah urusan personal dengan Tuhan, bukan sesuatu yang harus diumbar atau dibanggakan. Bilangnya aja bangga beragama tapi sholat wajibnya bolong-bolong, setiap misa sering absen, maturan suka lupa. Eh, maaf, bukan hakku komentar ya, hehehe. :p Oke, kalau misalkan nanti pemikiranku menurut kalian memihak agama tertentu, harap maklum karena latar belakang keyakinanku.

Kalau soal pandangan politik, aku nggak punya pandangan politik khusus. Ya memang pada masa kuliah dan berorganisasi aku selalu masuk bagian politik-politik, tapi aku tetap nggak punya keberpihakan ke partai apapun. Kalau ideologi? Pancasila lah, hahaha.

Oke, mulai, ya.

Seandainya jadi warga Jakarta, siapa gubernur pilihanmu? Aku memilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Kaget, ‘kan? Yang kenal aku di dunia nyata pasti ngiranya aku milih Ahok, ‘kan? Nggak, Kawan. Ngomong-ngomong bapakku dan cowokku (walaupun dia nggak menegaskan dengan gamblang) kayaknya seandainya jadi warga Jakarta, bakal milih Ahok, deh. Jadi bisa dibayangkan bagaimana aku di tengah-tengah mereka, wakakakakak. Kalau debat sama bapakku, ga ketemu titik temunya. Kalau debat sama cowokku, ujung-ujungnya selalu aku ngambek karena dia batu banget dan sukanya ngeledekin dengan muka menyebalkannya itu. Hahahaha.

Balik lagi, ya, soal pilihanku tadi. Menurutku programnya Ahok sangat bagus buat Jakarta, sudah terbukti juga. Tapi aku juga seperti melihat adanya angin segar tentang pendidikan dan masalah kemiskinan yang bisa dientaskan dengan program dari Anies dan Sandi. Didukung juga dengan melanjutkan program Ahok di periode sebelumnya yang sudah berhasil serta track record Anies-Sandi yang setauku juga bersih. Oh, masalah korupsi buku itu, ya? Sebelum palu hakim mengetuk Anies bersalah, aku nggak mau menyebarkan berita yang tidak-tidak, juga tidak mau mempercayai media mana pun dengan opini-opini yang menggiring kita pada pemikiran tertentu.

Dalam kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok, kamu memihak pada siapa? Aku memihak pada umat Muslim. Pada aksi 212 dan sekian sekian sekian. Secara terbuka aku mengakui bahwa aku mendukung aksi bela agama mereka, walaupun aku tidak termasuk dalam barisan massa itu. Bagaimanapun juga, menurutku, Ahok nggak berhak untuk mencatut isi dari suatu kitab lain untuk pidatonya. Oh, iya, aku nggak pernah dan nggak mau melihat video soal pidato Ahok itu. Aku maunya sih trust no media, tapi apa boleh buat, aku gatal juga sama ribut-ribut soal kosakata. Hahahaha.

“Dibohongi pakai Al-Maidah: 51” dan “Dibohongi Al-Maidah: 51” itu menurutku sama aja, ya. Hahahahaha. Kalau dibohongi Al-Maidah, laknat betul itu Ahok bilang kitab kita bohong! Dibohongi pakai Al-Maidah 51? Itu artinya orangnya yang membelokkan arti sebenarnya dari surat tersebut. Mari kita lihat artinya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51).

Hayoooo, yang ribut soal ini, sudah baca belum tafsirnya? Jelas nggak sih makna tafsirnya? Atau perlu dijelaskan? Kebohongan seperti apa yang bisa dilakukan dengan ayat yang sangat gamblang itu?

Memang ada perdebatan soal auliya ini, aku pun ga tau arti sebenarnya. Tapi, ya, namanya umat beragama, sah-sah saja rasanya kalau ada peraturan agamanya melarang memilih pemimpin non-agamanya–kalapun auliya ini artinya pemimpin. Ini didasari dari sifat alami manusia yang selalu ingin menang dan mengunggulkan kelompoknya sebagai kelompok terbaik. Itu sudah naluri manusia.

Nah, yang herannya, kok kalian yang beragama lain yang ribut, sih? Suka-suka kitab kamilah mau memerintahkan umatnya seperti apa. Kamu ga menuruti kitab kami juga sangat nggak berdosa, kan agama kita ga sama. Imani saja kitab masing-masing, ya. Kehidupan beragama adalah urusanmu yang paling sakral dengan Tuhanmu. Tidak perlu kamu mengurusi kehidupan beragama umat lain. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Ingat, jangan terbalik. Muah.

Saling menghormati saja. Cukup kita tau, oh di agama dia, dia nggak boleh gini. Nggak usah nyinyir, kok nggak boleh bla bla bla? Yeeee, situ kan udah sama-sama tau setiap agama memang punya peraturan sendiri. Sama kayak peraturan tiap negara juga. Di Singapura kita dilarang buang sampah sembarangan, memangnya orang Singapura kalau ke Indonesia bakal nyinyir sama kita kalau kita buang sampah sembarangan? Paling cuma ngebatin doang, dasar manusia terbelakang! Buang sampah kok sembarangan? Hehehe.

Tapi apakah Ahok berhak dikriminalkan karena kasus itu? Aku nggak mau berkomentar banyak. Aku nggak tau bagaimana tepatnya hukum untuk kasus seperti ini. Menurutku dia meminta maaf dan berjanji bersungguh-sungguh tidak mengulanginya saja sudah cukup. Tapi, kalau palu hakim sudah memvonis seperti itu, ya seperti itulah hukuman yang pantas untuk Ahok. Jadi hakim itu nggak mudah, loh, Sob. Harus adil. Adil dan setara itu beda. Kalau menurutmu Ahok dipenjara itu tidak adil, apakah jika Ahok bebas akan menjadi adil untuk kelompok lainnya? Belum tentu, ‘kan?

Ahok hanya dipenjara, tidak dihukum mati. Setelah bebas, dia masih bisa berkarya, masih bisa diangkat menjadi menteri. Nah, ini aku nggak tau, ya, soal hak prerogatif dari presiden untuk pengangkatan menteri. Apakah yang punya track record pernah dipenjara, jika kinerjanya bagus boleh tetap diangkat jadi menteri? Semoga boleh, ya, karena aku melihat Ahok ini, terlepas dari kasusnya, memang sangat bagus kinerjanya.

Ngomong-ngomong nggak usah didramatisir kayak dunia bakal berakhir deh karena putusan hakim itu. Ahok masih punya hak banding sampai kasasi dan peninjauan kembali, kalau nggak salah, ya. Semoga apapun itu jalur hukum yang nantinya ditempuh Ahok, bisa memenangkan hati kita semua.

Bicara soal keadilan, kalau kalian menuntut keadilan, please, deh, kemane aje lu? Keadilan memang hanya mitos dari dulu. Ketidakadilan lah yang membuat dunia ini menjadi adil. Sama-sama dapat ketidakadilan, ‘kan? Nah, jadi adil, ‘kan?

Lagian kalau kalian merasa Ahok didzolimi, halo assalamualaikum, apa kabar Salim Kancil? Munir? Wiji Thukul? Jugun Ianfu? Elang Mulia Lesmana? Heri Hertanto? Hafidin Royan? Hendriawan Sie?

Kalian nggak tahu 4 nama terakhir? Ya, mumpung lagi hangat momennya, jadi kuberitahu. Kalau kalian mau tuntut keadilan, besok tolong tuntut keadilan untuk 4 orang tadi. Besok adalah peringatan 19 tahun kematian mereka. Ya, kenalkan, mereka adalah 4 mahasiswa Trisakti yang gugur ditembak pada 12 Mei 1998 saat demonstrasi menuju era reformasi. Kabarnya, keluarga mereka sampai saat ini tetap berkampanye agar tidak ada lagi korban-korban seperti mereka. Tolong viralkan juga hal tersebut.

Kalau mau menuntut keadilan, yang adil juga, dong. Sertakan kasus-kasus ketidakadilan yang lain. Kasus-kasus yang dianggap angin lalu, dihilangkan, dibelokkan isunya.

Sebenarnya ini mengganjal sekali di kepalaku selama ini, kenapa sih kalian ngotot berantem tentang Ahok? Karena dia Tionghoa? Karena dia minoritas jadi kalian merasa dia tidak punya pendukung? Pendukung Ahok banyak, termasuk kalian. Justru menurutku korban ketidakadilan itu adalah pribumi-pribumi yang kalian pikir banyak pendukungnya. Siapa coba yang mau turun ke jalan untuk 4 mahasiswa Trisakti tadi kalau bukan keluarga atau anak Trisakti lainnya? Siapa coba yang mau turun ke jalan demi nenek pencuri singkong yang harus dihukum 2,5 tahun penjara akibat perbuatannya? Perbuatan yang didasari oleh kemiskinan dan ketidakmampuannya membeli makanan. Kalian mau? Kalian tidak kenal Ahok, kalian tidak kenal mahasiswa Trisakti tadi, kalian tidak kenal nenek pencuri singkong itu. Semua sama tidak kenalnya, lalu kenapa kalian hanya turun ke jalan untuk satu orang? Tidak adil kalian!

Sebenarnya kalian-kalian ini, baik yang ngotot Ahok dipenjara maupun yang dibebaskan, paham nggak sih sama kasusnya? Coba, deh, renungkan lagi. Jangan-jangan kalian-kalian inilah sebenarnya yang nggak adil dan terlalu ngotot dengan pendapat kalian sendiri.

Bukan hal yang aneh kalau orang yang ingin merubah keadaan menjadi seperti seharusnya dijegal langkahnya. Makanya hati-hati kalau mau bicara apa-apa. Dunia emang nggak adil. Semua memperhatikan setiap kesalahanmu, melupakan semua kebaikanmu.

Itu juga pemuka organisasi agama tertentu yang sama hebohnya. Setali tiga uang lah pesannya. Tolong dijaga juga bicaranya. Jangan nyakitin hati gitu, ah. Menyadarkan orang tidak harus dengan kata kasar. Udah tau watak orang Indonesia keras, kalau dikerasin juga, ga bakal ketemu titik temunya. Batu ketemu batu ya pecah. Coba ketemu air, berlubang, hehehe. Apa, deh, garing lu.

Dah ah, libur-libur malah mikir berat. Capek saya.

Sudah, ya, berantemnya. Ahok masih bisa menempuh jalur hukum lainnya. Jangan bertingkah seolah dunia kiamat. Bukan hanya Ahok saja yang bisa memperbaiki Indonesia. Indonesia bukan tentang Ahok. Kalau kalian sudah tahu langkah Ahok dijegal, ya lakukan perubahan. Jadi orang pintar, masuk pemerintahan, jadi orang seperti Ahok. Kalian orang Indonesia, ‘kan? Kalian juga bertanggung jawab menjadikan Indonesia lebih baik.

Mustahil? Susah?

Peradaban megah Mezopotamia juga tidak dibangun dalam semalam, Sob! Ayo jadi Ahok-ahok lainnya. Satu Ahok dijegal, seribu Ahok tumbuh dari diri kita semua.

Intinya, jangan berlebihan, ah, sama sesuatu.

Juga untuk golongan yang ngotot Ahok dipenjara, hehehe, masih panjang, Sob, jalannya menuju keputusan final, hehehe. Dah, ah. Jangan terlalu sedih, jangan terlalu bereuforia. Salam damai.

Ngomong-ngomong, perubahan apa yang sudah kamu lakukan hari ini untuk membuat Indonesia lebih baik? Kalau aku sudah menyetrika. Syukurlah minggu ini baju kerjaku bebas lecek, jadi bisa melayani customer dengan lebih percaya diri lagi. Customer pun jadi enak kan melihatnya? Pelayanan Indonesia sudah lebih baik berkat baju yang tersetrika rapi. Yeah!

Btw, kayaknya aku lebar banget ya, pembicaraannya? Pokoknya pembicaraan ini didasari oleh kasus Ahok dan euforia serta kesedihan yang berlebihan yang terlihat oleh mataku di media akhir-akhir ini. Itu. Hahahaha.

Advertisements

4 thoughts on “Sudah, Dong, Ahoknya! :)

  1. Hmm..aku baca sambil nahan napas.
    Kesimpulannya: ternyata susah juga ya, baca artikel sambil nahan napas wkwkw

    Btw, this article is so 👍 terbukti mantan anak sospol laah. Siip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s